Kamis, 15 November 2012

Satu Sembilan Satu Dua

Permata biru mulai menghilang seiring kabut menghujam
Sinar mentari berkelit dari pandangan
Samudera itu telah melenyapkan perahu-perahu kecil
Pergi dengan hentakkan ombak yang nampak berarti

Sosok itu bergeming ditengah sunyi
Merantai kesedihan dan kesenangan dalam diri
Entah rasa senang atau sedih yang  ia rasakan
Tapi jelas ini membuatnya tak karuan

Seekor lumba-lumba berenang kembali ke bibir pantai
Mengamati sosok itu dan saling menatap
Pikiran picik apa yang sedang mereka bicarakan
Pikiran hening apa yang sedang ia rasakan

Hai kau sosok yang indah
Hai Anda lumba-lumba yang beruntung
Kenanglah pertemuan ini sebagai hal yang indah
Dan pergilah kau mengawal perahu kecilmu yang berlalu

Berenanglah seluas kau mampu menjangkau samudera
Sosok itu masih saja sendiri tak melepas pandangan
Lumba-lumba mengiyakan isyarat, lalu pergi
Tau arah mana, tapi entah kapan akan bertemu lagi

***
Jakarta, Surabaya
Satu Sembilan Satu  Dua